PENDAKIAN GUNUNG SINDORO via ALANG-ALANG SEWU

25-26 Agustus 2018

Jumlah tim 7 orang (4 cewek, 3 cowok)

Kami berangkat dari Semarang jam 6:30 pagi naik mobil, kira-kira sampai di basecamp Alang-Alang Sewu jam 9:30. Kami pergi ke basecamp Alang-Alang Sewu naik satu mobil dan 2 motor. Sebelum tiba di basecamp, kami mampir di Alfamart untuk membeli makanan dan air minum. Di basecamp kami mendaftar dan membayar Rp 10.000,- per orang. Kami berangkat dari basecamp sekitar jam 11:30. Dari basecamp sampai ke pos 1, kami melewati kampung dan kebun tembakau. Meskipun tanjakannya tidak sulit, tetapi jalannya cukup jauh. Kira-kira 2 jam kami berjalan sampai pos 1. Agak menyesal juga karena sebenarnya ada ojek dari basecamp ke gerbang rimba (sebelum pos 1) seharga Rp 20.000, dan kami pilih jalan kaki. Karena kita melewati perkebunan tembakau, areanya sangat terbuka sehingga terik mataharinya terasa menggigit. Setibanya di Pos 1 kami istirahat 20 menit sambil makan makanan ringan dan minum. Kami juga bertemu dengan rombongan lain.

basecamp (a)
suasana basecamp pagi menjelang siang, ada mobil sayur yang dikerubuti emak-emak
basecamp (b)
Ada sekolah dasar di depan basecampnya 🙂

 

Di tengah perjalanan ke pos 2, ada persimpangan ke arah sumber air dan ke arah pos 2. Kami istirahat untuk masak air dan minum kopi atau coklat hangat (air yang kami ambil dari sumber air). Kami juga sholat di persimpangan ini, mumpung ada air. Kami istarahat agak lama, sekitar 40 menit, bahkan ada yang sempat tidur pulas. Dari pos 1 sampai pos 2, kira-kira kita berjalan 1,5 jam. Tanjakan menuju pos 2 sudah agak tinggi. Di pos 2 kami kembali istirahat  15 menit, untuk menghimpun tenaga karena melihat arah ke pos 3 mulai aduhai tanjakannya meski masih rapat vegetasi alamnya.

IMG_20180825_123105
pos 1. Istirahat sebentar

 

IMG_20180825_143447
persimpangan Ngopitan. ada sumber mata airnya (sekitar 500 meter dari simpang)

 

IMG_20180825_150230
Pos 2 Lembah Katresnan….dah mulai lelah

 

Tanjakan menuju pos 3 cukup tinggi dan membuat kami sangat lelah. Dari pos 2 sampai pos 3, mungkin sekitar 3 jam. Menjelang pos 3, mulai banyak alang-alang (itu sebabnya pos 3 disebut dengan alang alang sewu= bahasa Jawa, artinya banyak tumbuhan alang-alang). Sampai di pos 3, kami mencari tempat untuk mendirikan tenda. Waktu kami tiba di pos 3, sangat dingin dan ada berkabut. Setelah mendirikan tenda, kami masak air untuk minum kopi atau coklat. Kami juga masak mie instan karena kami sudah lapar sekali waktu itu. Sekitar jam 5, kabut sudah hilang dan langit sangat cerah. Kami bisa melihat suasana matahari tenggelam di pos 3. Sangat cantik pemandangan waktu itu. Pos 3 ini disebut dengan Sunrise Hunter, yang katanya spot paling bagus untuk melihat matahari terbit. Tapi kami memutuskan untuk summit jam 1 dini hari, jadi tidak bisa melihat matahari terbit dari pos 3. Tetapi, pemandangan matahari terbenam pun tidak kalah cantik, luar biasa. Gunung Sumbing yang paling terlihat jelas. Kemudian, saat kabut dan awan bergerak, terlihat juga Gunung Merbabu, Lawu (?), dan gunung-gunung lain.

IMG_20180825_163120
baru aja sampe pos 3. berkabut, lelah, lapar, tepar.

 

Pos 3 sama Iwao, orang Jepang. Pertama kali naik gunung di Indonesia...."wow, menantang abis" katanya
Pos 3 sama Iwao, orang Jepang. Pertama kali naik gunung di Indonesia….”wow, menantang abis” katanya

 

IMG_20180825_173525 IMG_20180825_172833

dari pos 3 katanya posisi terbaik untuk lihat sunrise. Tapi ternyata sunsetnya juga keren abis. Di seberang adalah gunung Sumbing
dari pos 3 katanya posisi terbaik untuk lihat sunrise. Tapi ternyata sunsetnya juga keren abis. Di seberang adalah gunung Sumbing

Perjalanan kami lanjutkan menuju puncak gunung Sindoro pada jam 1 pagi. Selama perjalanan, setelah pos 4, bau belerang sudah tercium samar-samar, dan bahkan mata saya perih, mungkin karena belerang. Dingin sekali. Kami melihat matahari terbit di pos Kazu Wazang. Cantik sekali. Gunung Sumbing terlihat cantik sekali dari area Kazu Wazang. Kazu Wazang merupakan area dengan tumbuhan/ pohon yang sudah mati, tampaknya tidak tahan dengan belerang, warnanya hitam seperti habis terbakar. Mungkin karena itulah penduduk di sana menamakannya Kazu Wazang, konon dialek orang-orang di sekitar daerah Dieng, lebih “suka” melafalkan bunyi [z] sebagai ganti dari bunyi [y]. Kazu=kayu, wazang=wayang/ atau bayang dalam bahasa Indonesia. Setelah melewati area Kazu Wazang, jalur menuju puncak benar-benar hanya batu dan kerikil. Bau belerang yang menyengat, dan perih di mata makin menjadi-jadi, bahkan ada anggota tim yang muntah-muntah.

di tengah perjalanan dari pos 3 ke puncak. pemandangan pagi hari dari Kazu Wazang dengan view gunung Sumbing
di tengah perjalanan dari pos 3 ke puncak. pemandangan pagi hari dari Kazu Wazang dengan view gunung Sumbing

 

on frame Gunung Sumbing dari Kazu Wazang
on frame Gunung Sumbing dari Kazu Wazang

 

IMG_20180826_071715
menjelang Kazu Wazang (banyak pepohonan mati seperti terbakar)
menjelang puncak, vegetasi alamnya sudah tidak ada. jalan berbatu dan berkerikil
menjelang puncak, vegetasi alamnya sudah tidak ada. jalan berbatu dan berkerikil

 

menjelang puncak, on frame gunung Sumbing
menjelang puncak, on frame gunung Sumbing

 

Kami tiba di puncak Sindoro jam 6:30 pagi. Karena gunung Sindoro adalah gunung berapi aktif, bau belerang sangat kuat. Kami ada di puncak hanya 15 menit, kemudian turun karena tidak kuat bau belerang.

IMG_20180826_063407

Puncak Gunung Sindoro. Bau belerangnya gak tahan bo!
Puncak Gunung Sindoro. Bau belerangnya gak tahan bo!

 

Turun dari puncak kami tiba di tempat kemah sekitar jam 10. Panas!. Bersih-bersih tempat kemah dan packing untuk turun ke basecamp. Jalan turun menuju basecamp dari pos 3 bisa dibilang banyak tempat yang licin. Menjelang pintu keluar dari hutan, kami berlima memutuskan telepon basecamp untuk minta dikirimin ojek. Bayar Rp 20.000 (selain lelah yang amat sangat, kami juga mengejar waktu sampai Semarang supaya tidak terlalu malam).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *